Pertama menikah semua orang disekitar kita akan sibuk bertanya,
"Sudah isi belum?",
"Kapan nih nyusul?" (versi ibu baru punya anak).
Bisa dibilang pertanyaan seperti itu sebetulnya hanya pertanyaan basa-basi kalau baru ketemu, Sekali dua kali saya masih bisa tersenyum menjawab pertanyaan seperti itu dengan jawaban klise, “wah belum tau nih, InsyaAllah kalau diijinkan secepatnya deh”. Tapi kalau setiap bertemu orang selalu muncul pertanyaan yang sama, lama-lama muncul perasaan yang tidak menyenangkan buat saya. Tidak menyenangkan jelas, karena kan saya jadi bosan menjawabnya. Bahkan kadang-kadang pertanyaannya berkembang lebih dahsyat lagi, “kapan mau punya anak, sudah lebih dari setahun menikah kok belum hamil juga ”.
Waktu pun berlalu, memasuki usia pernikahan 1 th sudah ada pada tahap bertanya pada diri sendiri hmm, kok belum hamil juga ya?, yang lain baru juga nikah langsung jadi. Pertanyaan orang sudah berubah kali ini, "Belum isi yah? udah coba pengobatan alternatif, atau pijet, atau bla bla bla?", seolah-olah ada yang salah sama tubuh saya.
Sangatlah wajar, jika manusia senantiasa menyenangi hal-hal yang indah di dunia ini. Karena sudah menjadi tabiat yang ditanamkan Allah SWT kepada manusia bahwa manusia akan cenderung mencintai harta, anak-anak, dan suami/istri mereka. Allah berfirman dalam Surat Al Imran 14, yang artinya,"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Inilah kesenangan hidup di dunia; di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Al Imran (3): 14)
Wahai saudariku sesama muslimah, setiap insan di dunia ini tak akan terlepas dari ujian. Apapun itu bentuk ujiannya. Dalam surat Al Baqarah, Allah SWT berfirman, yang artinya.
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan, harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al Baqarah (2): 155)
Belum mendapat keturunan meskipun telah lama berumah tangga adalah salah satu bentuk dari berbagai macam ujian yang Allah berikan pada manusia. Namun, kebanyakan orang mengira, bahwa cobaan hanya datang dalam bentuk kesulitan saja. Mereka tidak menyadari, bahwa melimpahnya nikmat juga merupakan ujian yang diberikan Allah. Sehingga banyak yang dapat melalui cobaan dan bersabar ketika mendapatkan kesulitan namun sangat sedikit yang mampu melampaui ujian berupa kenikmatan dunia. Hal ini menjadikan manusia lalai saat kesenangan hidup menyapa mereka. Dalam surat Al Anbiya ayat 35, Allah Ta'ala berfirman, yang artinya,
"... dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kami, kamu akan kembali." (QS. Al Anbiya (21): 35)
Allah juga berfirman, yang artinya,
"Adapun sebagian manusia apabila diberi ujian oleh Tuhannya yaitu diberi tempat yang mulia dan diberi kenikmatan kepadanya, maka ia berkata, 'Tuhanku telah memuliakan aku'. Adapun apabila Tuhannya mengujinya dengan membatasi rezekinya, dia berkata, 'Tuhanku telah menghinakan aku.'" (QS. Al Fajr (89): 15-16)
Bersabar adalah kunci dalam masalah ini, karena sabar adalah salah satu jalan datangnya pertolongan Allah. Allah berfirman, yang artinya.
"Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS. Al Baqarah (2): 153)
Hendaknya kita harus selalu berbaik sangka terhadap takdir Allah. Dan yakinlah, bahwa segala sesuatu yang telah menjadi keputusan Allah, pasti mengandung banyak hikmah meskipun kita tidak menyadarinya. Ingatlah saudariku, tinta takdir telah mengering. Setiap manusia telah dituliskan tentang nasibnya 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rezekipun telah ditetapkan, manusia tidak akan meninggal sebelum jatah rezeki yang Allah tetapkan baginya habis.
Saat seorang mukmin menghadapi kesulitan dalam hidupnya, semestinya ia tidak berpangku tangan begitu saja tanpa berusaha. Sampai saat ini pun, saya selalu berikhtiar yang dibolehkan syari'at (ke dokter) dan berdoa. Dan satu lagi yang perlu diingat adalah, termasuk di antara bentuk usaha yaitu dengan memperbanyak taubat dan beristighfar.
Terus Berusaha, Semangat,... Khusnudzon pada Allah :)
Ada rasa yang tiba-tiba menyeruak ke dalam sanubariku. Perasaan itu hinggap tanpa permisi. Pelan namun terarah tepat mengenai sisi terhalus dari diriku.
Rasa yang datang tanpa permisi itu adalah sebuah naluri. Ketika makhluk-makhluk mungil itu ku gendong, bahkan ku pandangi di saat mereka sedang merangkak di lantai.
Mari berdo'a
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Rabbana hablana min azwajina wa zurriyatina qurrata a’yunin, waj’alna lil muttaqiina imaama. Artinya: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)
Doa Nabi Ibrahim a.s. ketika belum punya anak:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Rabbi hablii min ash-shalihiin. Artinya: Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (As-Shaffat: 100)




